Guru teladan itu…

Ini adalah postingan saya di blog tumblr saya.

Dan hari ini untuk mengenang beliau yang berulang tahun ke 50…

Guru teladan itu…

Sosok seorang guru atau dengan istilah jawa “sing digugu lan ditiru” artinya dia yang didengarkan apa yang beliau katakan dan ditiru apa yang beliau kerjakan. Bukan sekedar guru yang datang jam 7 dan pulang jam 2 siang tanpa membawa misi apapun untuk anak didik mereka, yang cemas apabila tahu uang gaji bulan ini akan terlambat.

Guru yang seharusnya mengabdikan dirinya untuk negara, membawa misi untuk mencerdaskan penerus bangsa, bahkan masih semangat untuk mengajar walau beliau tahu kalau bulan ini gajinya akan terlambat. Mungkin pernah kita melihat perjuangan seorang guru yang rela mendatangi muridnya yang tidak masuk sekolah hingga beberapa hari untuk mengajaknya kembali kesekolah atau masih memberikan pelajaran tambahan setelah jam sekolah selesai tanpa membayar sepeserpun.

Cerita itu mungkin pernah kita lihat,ya.. kita pernah melihat ditayangan televisi tentang seorang guru, namun apakah kita pernah melihatnya langsung?

Saya sendiri pernah menemui seorang guru yang bisa saya sebut sebagai guru teladan, lahir dari keluarga yang sederhana menjadi anak pertama dari 4 bersaudara yang semuanya ada perempuan.

Ditinggalkan oleh ibunya saat akan melahirkan adiknya yang ke-4 dan ditinggalkan oleh ayahnya pada saat dia berada di kelas 6 SD, usia yang sangat muda untuk menjadi seseorang yang ditinggalkan oleh orang tua mereka dan harus melanjutkan hidupnya bersama ketiga adiknya yang masih kecil. Dengan uang pensiuan orang tua yang diterima setiap bulan, akhirnya dia dapat melanjutkan pendidikan hingga menjadi guru dan kedua adiknya juga menjadi guru, hanya adiknya paling kecil yang tidak menjadi PNS.

Setelah menjadi guru di sebuah sekolahan yang jauh dari kota dia tinggal lebih tepatnya dia mengajar di kaki gunung, dia berjuang untuk sampai ke sekolahan tersebut dengan menaiki bus angkutan pedesaan yang ditempuh 1 jam perjalanan setiap harinya. Dia lakukan itu hingga lebih dari 10 tahun, hingga akhirnya dia dapat mengajar menggunakan kendaraan motor sendiri hasil dari kredit. Dia mendapat kesempatan untuk pindah sekolah yang jaraknya lebih dekat walau hitungannya masih dia tempuh selama 40 menit perjalanan dari rumahnya.

Menjadi guru baru disekolah tersebut dia mengajar kelas 1, tahun demi tahun berjalan, mulailah meningkat, dia mengajar kelas 3, 5 dan akhirnya dia mengajar kelas 6 SD, sebuah bentuk tanggung jawab yang besar karena ditangan dia lah nasib murid-muridnya ditentukan, apakah mereka akan lulus semua dan dapat melanjutkan ke smp terbaik atau akan balik menemani orang tua mereka di ladang untuk menggarap sawah.

Setelah menjadi guru kelas 6, dia merasa lebih harus belajar lagi, karena selama ini dia belum pernah mengajar untuk kelas 6, setiap malam selepas magrib dia habiskan waktu hingga jam 11 malam untuk belajar apa yang akan diajarkan besok pagi, sembari membuat soal-soal untuk dikerjakan oleh muridnya yang dijadikan PR atau pekerjaan rumah setelah pulang sekolah, tujuannya agar murid-muridnya juga belajar setelah pulang sekolah atau malamnya.

Jam dinding masih menunjukan pukul 3 pagi dia sudah bangun, bukan untuk menyiapkan makan, namun untuk melanjutkan belajar malam sebelumnya, dan juga mempersiapkan apa yang akan dia bawa untuk mengajar hari ini, selepas subuh barulah dia mengerjakan pekerjaan rumah selayaknya ibu rumah tangga.

Rutinitas itu dia lakukan setiap harinya, bahkan malam minggu sekalipun terkadang dia habiskan untuk belajar apabila tidak ada kegiatan diluar(kondangan atapun diajak jalan-jalan oleh keluarganya).

Kemajuan jaman saat ini membuat hampir setiap orang memiliki teknologi canggih yaitu handphone (HP) namun tidak semua muridnya memiliki, tidak seperti dikota-kota besar yang bahkan setiap murid TK sudah dibekali HP masing-masing oleh orang tua mereka.

Untungnya orang tua murid dia memiliki HP yang fungsinya bukan untuk gaya-gayaan… alat komunikasi tersebut mereka gunakan untuk mendampingi anak-anak mereka dalam belajar, karena batasan pendidikan orang tua mereka, sehingga orang tua mereka hampir setiap malam menelpon atau sms ke dia untuk menanyakan pelajaran yang sedang di pelajari oleh anaknya, dan bagaimana soal-soal yang diberikannya tadi siang untuk dikerjakan saat dirumah.

Ya… hampir setiap malam dengan setianya melayani pertanyaan-pertanyaan dari orang tau murid tentang pelajaran anaknya, hal yang sangat jarang ditemukan saat ini, dimana kebanyakan orang tua membiarkan anak-anaknya belajar sendiri tanpa di dampingi orang tua mereka.

Bila disekolah lain, murid diajarkan untuk saling membantu saat ujian, mencontek, diminta untuk membawa HP untuk dikirim jawaban, murid beliau berbeda, mereka sangat hormat, takut untuk mencontek, takut untuk bekerjasama dengan teman, bahkan saat ujian tidak ada penjaganya, tidak ada yang berani untuk mencontek. Tidak ada dalam benak mereka untuk melakukan hal semacam itu.

Hingga akhirnya setelah ujian selesai, beliau bangga karena telah meluluskan semua muridnya, dan pada saat acara pelepasan wisuda, baru beliau diberitahu oleh seorang petugas dari kecamatan, bahwa sekolah beliau mendapat juara 1 sekecamatan, dan untuk nilai tertinggi dari nomer 1-3 adalah muridnya semua. tak pelak beliau meneteskan air mata, karena inilah hasil pencapaian yang beliau inginkan.

Namun bulan januari 2012, beliau jatuh sakit, sakit yang diderita beliau bermula saat beliau merasa tidak enak badan, kemudian minta di kerik menggunakan balsem gel*ga.

Beberapa hari setelahnya, entah karena alergi atau kontradiktif dengan balsem tersebut, kulit beliau melepuh seperti tersiram air panas, sudah seminggu kulit beliau seperti itu, akhirnya dibawa ke dokter, namun tidak ada hasil yang menggembirakan hingga dibawa ke dokter kulit di kotanya, namun apa yang terjadi, wajah beliau mengeluarkan nanah karena infeksi pada kulitnya…

Saat itu juga beliau dibawa ke dokter spesialis kulit di kota Solo, alhamdulillah nanah diwajah beliau sudah hilang, selang beberapa hari kulit beliau berangsur-angsur pulih, dan tinggal fase penyembuhan.

Nampak tubuhnya kian kurus yang karena beliau saat sakit tidak bisa makan banyak, apabila makan perutnya menolak, satu bulan sejak sakit yang pertama, mungkin beliau sudah turun 8kg, kini tinggal tulang dan sedikit daging yang dibalut kulit beliau.

Karena kondisi fisik beliau yang semakin memburuk karena kekurangan asupan gizi akhirnya beliau diharuskan dilarikan ke rumah sakit pada hari minggu malam jam 24.30, dan saat itu pula baru diketahui ternyata beliau menderita penyakit gula darah.

Saat di tes, gula darah beliau menunjukkan angka 525, ya angka yang untuk orang awam sudah dapat dikatakan titik kritis, dan saat dibawa kerumah sakit, beliau memang sudah separo hilang kesadarannya (mengigau)… Padahal beliau tidak memiliki riwayat penyakit gula, mungkin ini dikarenakan beliau tidak mau makan nasi namun senang minum dengan jumlah gula yang berlebih.

10 hari dirawat, tidak menemui hasil yang bagus, hanya saja gula darah turun menjadi 200-350, akhirnya malam itu beliau dibawa kerumah sakit di solo yang notabene lebih besar dan “mungkin” lebih canggih.

Tiba dirumah sakit jam 2 dan bisa masuk kekamar jam 3 pagi, karena kamar VVIP saat itu penuh, terpaksa beliau mendapat kamar VIP yang harus berbagi dengan pasien lain ( 2 pasien dalam 1 kamar), apa kalimat yang terucap pertama beliau:

“Anak-anakku tidur dimana kalau sekamar untuk 2 pasien?”

ya… beliau lebih memikirkan nasib anak-anak beliau yang saat itu menjaganya, karena suami beliau harus ke tanjungpinang untuk kerja, karena tidak dapat meninggalkan perkerjaannya.

Ternyata jam 11 siang beliau harus dibawa ke ruang ICU, karena kondisinya menurun, selama di ruang ICU anak-anaknya dengan setia menunggu beliau, hingga dimana jam menunjukkan pukul 12 malam,

“ibuk haus? minum aqua ya?”

“hee…eh” jawab beliau.

Meminum air dengan sedikit perjuangan karena beliau minum dengan posisi tidur.

“enak buk?”

“segeeer” jawabnya dengan senyum indahnya…

“cepet sembuh ya buk, nanti pindah ke ruangan VVIP, ruangannya luas, ntar semua bisa tidur disitu”

“hee…eh”

pukul 00.35…..

“ibuk… minum lagi yah?”

“hee…eh”

saat itu sang anak membuka tutup botol dan ingin menuangkan air, namun sebelum beliau dapat meminum air, beliau sudah menggigil… badannya sangat dingin…

“ada apa buk? dingin kah?”

“iya dingin… AC nya dingin banget” saat itu AC menununjukkan angka 29.

“tak selimuti ya buk, biar anget”

“hee…eh”

Mungkin kata-kata itu yang terakhir terucap dari mulut beliau, karena setelahnya kondisi beliau mulai drop, hingga tensinya menunjukan angka 42/24 (normal 120/80)

Suami beliau terbang langsung dari tanjung pinang saat itu juga, tepat pukul 11.00 sumai beliau datang, dan beliau masih tergolek di ruang ICU.

Jam menunjukkan pukul 12.30, pernapasan beliau mulai susah, seperti ada cairan di patu-paru beliau.

Dan pada jam 4 sore akhirnya beliau menghadap ke sang pecipta, karena kondisi beliau yang sangat lemah. Innalillahi wa’innalillahi ro’jiun

Dan guru teladan itu adalah Sri Suyatmi S.Pd ibunda saya tercinta.

Selamat jalan guru teladan…

Selamat jalan ibuk…. aku sayang ibuk…..

Surga ada dibawah telapak kaki ibu, muliakan seorang ibu melebihi siapapun, buat beliau tersenyum, buat beliau bangga, walau hanya sekedar menemani beliau duduk untuk bercerita hal-hal sepele, kita akan merasa kesepian saat beliau sudah tidak ada, dan saya hanya bisa bisa mencium kaki beliau pada saat beliau dibaringkan untuk disemayamkan… ya saat itu terakhir saya melihat dan mencium surga saya. -ruzdee (fb-29/9/2012)

Related Articles

Facebook Comment

2 Comments

  1. Toga

    Mbrebes mili aku baca tulisanmu ruz, moga beliau diampuni dosa2nya dan ditempatkan di SurgaNya.. amiennn

    • ruzdee

      amiiin… matursuwun om toga….

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *


IBX598034F575849